Membaca buku harus kita jadikan kewajiban dan kebiasaan. Agar memiliki kekayaan dan keberagaman literasi. Memang, literasi tidak harus buku. Bisa lisan, atau audio visual. Tetapi sejauh ini sumber pengetahuan paling murah dan efisien bisa diakses adalah buku. Banyak sekali bahan bacaan bisa kita dapatkan hari ini secara gratis dan cuma-cuma. Namun, tidak semua terkurasi dan terverifikasi dengan baik. Akibatnya ketika dikonsumsi hanya menjadi sampah informasi. Memenuhi pikiran tetapi tidak membantu menjadi pemecah masalah. Banyaknya polusi informasi memaksa kita untuk lebih jeli dalam memilah dan memilih. Kehadiran perpustakaan digital bisa menjadi salah satu solusi. Masyarakat bisa mengakses secara gratis secara mudah tampa gangguan iklan. Khususnya Ipusnas aplikasinya tersedia dalam platform mobile dan dekstop. Koleksinyapun terbilang lengkap dan bagus-bagus. Bagi para pembaca buku fisik hal pertama yang harus dilakukan tentu adaptasi. Membaca buku fisik memang enak dan ra...
Ini adalah cerita perjalanan beternak kambing saya di desa dengan modal 500 ribu. Saya katakan diawal, ini bukan cerita inspirasi atau motivasi kesuksesan. Benar-benar hanya catatan, jadi tak usah berekspektasi lebih. Pemahaman paling dasar harus dipegang sebelum beternak kambing ialah jangan berharap langsung untung. Sirkulasi uang dalam usaha ini lambat. Tidak ada patokan khusus harganya, murni mengikuti mekanisme hukum pasar. Maka sudah seharusnya jika menganggap beternak kambing sebagai investasi. Awal bulan Juli 2022 lik (sebutan untuk paman) Jumain membawa kabar ada orang yang akan menggaduhkan kambing. Istilah bahasa Indonesianya kira-kira investasi usaha dengan bagi hasil. Saya menganggap biasa saja kabar tersebut. Karena memang tidak ada kandang dan lokasi pakan yang terbatas. Sedangkan kambing di rumah sudah ada 8 ekor. Kemudian lik Ju menjelaskan, tidak hanya kambingnya. Apabila bersedia akan diberikan kandang dan hak untuk mengambil pakan di tanahnya. Dari si...
Buku ini sudah lama ingin saya baca. Soalnya dulu memang banyak yang melakukan review dengan komentar positif. Entah kenapa baru tergerak membacanya minggu ini. Saya meminjamnya dari aplikasi ipusnas. Dan ternyata isinya memang sebagus itu. Ini adalah buku filsafat paling ringan untuk dipahami. Bahkan untuk mengerti maksudnya semudah membaca teenlit. Jika memiliki pengalaman membaca buku filsafat berbahasa kaku, kalimatnya panjang, bertumpuk-tumpuk dan berbelit buang jauh-jauh anggapan itu. Pada buku filosofi teras karya Henry Manampiring ini bahasa digunakan tidak baku. Sebagai contoh kita akan sering menemui penggunaan kata gue, loe, atau istilah lainnya layaknya bahasa gaul. Begitu cair dan mengalir. Ditambah bumbu-bumbu joke sedikit cringe membuat saya tertawa geli. Imbas paling dirasakan dari membaca buku ini adalah terkait kemampuan management emosi. Ada sebuah pernyataan jika hanya 10 persen masalah hidup kita disebabkan oleh masalah itu sendir...